Terkini

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Politik

Pemimpin Sejati Tidak Selalu Berjas – Mengapa Kepemimpinan Dekat Rakyat Lebih Bermakna

Pemimpin Sejati Tidak Selalu Berjas – Mengapa Kepemimpinan Dekat Rakyat Lebih Bermakna
Screenshot 20251123 163547 Picsart e1770704542143 (Foto: BeritaOpini/Dokumentasi)
Budi

Budi

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:28 WIB

Dalam dinamika politik Indonesia, kita sering disuguhi sosok calon pemimpin yang tampak sempurna: berjas rapi, pidato terstruktur, kampanye megah, dan sorotan media yang terang benderang. Namun, di balik semua citra itu, ada pertanyaan penting: apakah sosok ini benar-benar memahami rakyat, atau sekadar menampilkan wajah cantik untuk mendapatkan suara? Cerita nyata tentang seorang pemimpin yang hadir sederhana, bahkan dengan sandal jepit, memberikan pelajaran berharga tentang makna kepemimpinan yang sejati.

Salah satu sosok yang mewakili kepemimpinan semacam ini adalah Sahrin Hamid. Namanya dikenal sejak era perlawanan rakyat menentang rezim Orde Baru. Ia bukan lahir dari ruang rapat elit, seminar berpendingin, atau baliho mahal. Namanya muncul dari perjuangan nyata di jalanan — demonstrasi, diskusi terbuka, dan aksi yang menuntut keadilan. Jejaknya adalah bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu muncul dari tampilan, melainkan dari keberanian dan ketulusan untuk membela rakyat.

Bertahun-tahun kemudian, saya bertemu Sahrin di kongres organisasi pemuda di Samarinda. Dari telepon seorang kawan, saya mendapat kabar bahwa ia menjadi calon Ketua Umum BM PAN. Saya datang dengan ekspektasi melihat politik formal, namun apa yang saya saksikan justru membuka perspektif baru. Di tengah formalitas sidang, kandidat lain tampil rapi: kemeja bersih, celana bahan, sepatu mengilap. Sahrin, bagaimanapun, hadir dengan kaos sederhana, celana jeans, dan sandal jepit.

Tampilan sederhana itu bukan sekadar gaya. Itu adalah simbol integritas politik yang sejati: hadir bukan untuk menarik perhatian atau memukau publik, tetapi karena panggilan tugas dan tanggung jawab terhadap rakyat. Sikap sederhana ini mencerminkan pesan penting: pemimpin sejati tidak menilai politik dari kemasan, tetapi dari isi hati dan keberanian mengambil keputusan.

Proses pemilihan Ketua Umum berlangsung sengit. Tarik-menarik suara, ego wilayah, dan negosiasi kepentingan terjadi secara nyata. Namun, rakyat memilih Sahrin bukan karena penampilan, melainkan karena kepribadiannya yang dekat dengan kehidupan rakyat, kejujurannya, dan integritasnya dalam memperjuangkan aspirasi. Momen ini menjadi bukti bahwa politik yang tulus akan selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah kompetisi yang keras dan penuh intrik.

Karier politik Sahrin terus berkembang, hingga akhirnya menjadi anggota DPR RI. Namun, kesederhanaannya tetap melekat. Hubungan dengan rakyat dan kolega berlangsung hangat, tidak berubah meski posisi dan statusnya meningkat. Ia selalu hadir dengan sikap rendah hati, komunikasi yang sederhana, dan perhatian nyata terhadap aspirasi masyarakat. Sikap ini menjadi pengingat bagi kita semua: politik bukan tentang citra, tetapi tentang aksi nyata yang berdampak pada kehidupan orang banyak.

Kini, Sahrin memimpin Partai Gerakan Rakyat, sebuah wadah politik yang berakar dari aspirasi rakyat dan gerakan nyata. Partai ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat bukan sekadar slogan, tetapi praktik yang konsisten dalam setiap langkah politik, termasuk mendukung tokoh nasional Anies Rasyid Baswedan sebagai figur perubahan bagi bangsa.

Apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Bahwa dalam politik Indonesia, pemimpin yang tulus hadir bukan karena pamrih, citra, atau strategi pencitraan. Pemimpin sejati hadir karena panggilan hati untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka memahami tantangan rakyat sehari-hari, dan tidak takut turun ke lapangan, berbicara dengan warga, serta mendengar keluhan dan aspirasi secara langsung.

Dalam memilih pemimpin, kita harus cermat. Jangan menilai dari kemasan yang rapi atau janji manis, tetapi dari integritas, keberanian, dan kedekatan dengan rakyat. Politik yang datang dengan “sandal jepit” bukan sekadar simbol, melainkan manifestasi kepemimpinan yang jujur, nyata, dan berdampak. Pemimpin seperti ini akan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan, dan akan memastikan perubahan tidak hanya terjadi di media, tetapi juga di kehidupan nyata masyarakat.

Akhirnya, kisah Sahrin Hamid menjadi inspirasi: bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu harus mewah, formal, atau terlihat sempurna. Kesederhanaan yang berpadu dengan integritas, keberanian, dan ketulusan adalah fondasi dari politik yang efektif, berkesinambungan, dan benar-benar mewakili suara rakyat. Saat kita memilih pemimpin, mari utamakan kualitas ini, karena politik yang tulus adalah jalan menuju perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi bangsa.

Baca Juga