Terkini

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Artikel

KM 0 Sabang Jadi Titik Awal Seruan Perubahan: Gerakan Rakyat Teguhkan Perjuangan Keadilan Ekologis

KM 0 Sabang Jadi Titik Awal Seruan Perubahan: Gerakan Rakyat Teguhkan Perjuangan Keadilan Ekologis
55454d46 1ea2 4c08 8fb9 f7b8dc647bf0 (Foto: BeritaOpini/Dokumentasi)
Budi

Budi

Senin, 23 Februari 2026 | 22:10 WIB

Sabang, Aceh – 21 Februari 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan satu tahun Gerakan Rakyat. Alih-alih merayakan hari jadinya dengan seremoni simbolik semata, organisasi ini memilih langkah yang sarat makna: menanam pohon di Kilometer Nol Indonesia, Sabang. Di titik paling barat Nusantara itulah, komitmen terhadap keadilan ekologis ditegaskan secara terbuka kepada publik.

Dipimpin langsung oleh Ketua Umum, Sahrin Hamid, kegiatan ini dirancang bukan hanya sebagai peringatan internal organisasi, tetapi sebagai pesan politik yang jelas. Bahwa masa depan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari cara bangsa ini memperlakukan alamnya. Dari KM 0, sebuah titik yang secara geografis menjadi awal Indonesia, Gerakan Rakyat mengirimkan sinyal kuat bahwa perubahan harus dimulai sekarang—dan harus dimulai dari kesadaran ekologis.

Rombongan tiba di Aceh melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada Sabtu siang sekitar pukul 14.45 WIB. Mereka disambut oleh jajaran Dewan Pimpinan Wilayah Aceh serta sejumlah pimpinan daerah dari Banda Aceh, Aceh Besar, dan Bireuen. Kebersamaan tersebut menandakan bahwa isu lingkungan bukan sekadar agenda simbolik, melainkan telah menjadi komitmen struktural organisasi.

Perjalanan menuju Sabang ditempuh melalui jalur laut menggunakan kapal cepat. Hamparan perairan yang membentang luas menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang kelestariannya sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem darat dan laut. Setibanya di Sabang, rombongan terlebih dahulu menunaikan ibadah, sebelum melaksanakan acara inti di kawasan KM 0.

Di lokasi yang sarat nilai sejarah itu, Sahrin Hamid bersama jajaran pimpinan wilayah dan daerah menanam pohon sebagai simbol keberlanjutan. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa menanam pohon bukanlah sekadar aktivitas seremonial, melainkan deklarasi moral dan konstitusional. Menurutnya, menjaga bumi adalah bagian dari amanah kebangsaan.

Sabang bukanlah lokasi yang dipilih tanpa pertimbangan. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pelabuhan strategis sejak masa kolonial. Julukan “Serambi Mekah” juga melekat kuat pada identitasnya sebagai wilayah dengan jejak spiritual yang mendalam. Dengan latar tersebut, penanaman pohon di KM 0 menjadi simbol yang menyatukan nilai sejarah, religiusitas, dan visi masa depan Indonesia.

Dalam refleksinya, Sahrin menegaskan bahwa amanat konstitusi untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia harus dipahami secara menyeluruh. Perlindungan itu tidak hanya menyangkut warga negara, tetapi juga lingkungan hidup sebagai ruang eksistensi bersama. Tanah, air, hutan, dan laut adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan bangsa.

Realitas yang dihadapi Indonesia saat ini menunjukkan urgensi tersebut. Deforestasi masih terjadi, lahan mengalami degradasi akibat eksploitasi berlebihan, pencemaran lingkungan mengancam kesehatan masyarakat, dan dampak perubahan iklim semakin terasa. Ironisnya, kelompok masyarakat kecil seperti petani dan nelayan menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Gerakan Rakyat memandang bahwa keadilan sosial tidak akan pernah tercapai tanpa keadilan ekologis. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga sumber kehidupan. Ketika laut tercemar, bukan hanya biota yang terdampak, melainkan juga mata pencaharian masyarakat pesisir.

Karena itu, organisasi ini mendorong transformasi paradigma pembangunan nasional. Eksploitasi sumber daya alam harus dihentikan jika terbukti merusak dan tidak berkelanjutan. Tata kelola hutan dan tambang perlu dijalankan secara transparan dan akuntabel. Hak masyarakat adat atas ruang hidupnya harus dihormati dan dilindungi. Selain itu, percepatan transisi menuju ekonomi hijau menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.

Aksi di KM 0 Sabang juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nasional yang telah dilakukan di wilayah timur dan utara Indonesia. Pola ini menunjukkan bahwa perjuangan keadilan ekologis bukan agenda sesaat, melainkan arah strategis jangka panjang. Gerakan Rakyat ingin memastikan bahwa isu lingkungan menjadi bagian integral dari diskursus kebangsaan.

Lebih jauh, kegiatan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu. Ia adalah tanggung jawab kolektif. Setiap individu memiliki kontribusi, sekecil apa pun, untuk memastikan bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang.

Pesan dari Sabang disampaikan dengan tegas: hentikan penggundulan hutan, hentikan praktik eksploitasi tanpa batas, dan bangun Indonesia dengan paradigma keberlanjutan. Pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhitungkan dampak ekologis akan melahirkan krisis yang lebih besar di masa depan.

Satu tahun perjalanan Gerakan Rakyat menjadi momen evaluasi sekaligus penguatan komitmen. Penanaman pohon di KM 0 bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah panjang menuju Indonesia yang lebih adil—bagi manusia maupun bagi alamnya.

Seperti pohon yang ditanam hari itu, perjuangan ini diharapkan tumbuh kuat dan berakar dalam kesadaran kolektif bangsa. Dari titik nol Indonesia, semangat keadilan ekologis dikobarkan—sebuah ajakan persuasif agar seluruh rakyat dan pemangku kebijakan bergerak bersama menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Baca Juga